69572_1483373647450_1784072_n

Image | Posted on by | Leave a comment

RPP DAN SILABUS SD BERKARAKTER KELAS 1

RPP1Lingkungan1sms2

RPP1Peristiwa1sms2

RPPBudiPekerti1sms2

RPPKebersihan1sms2

RPPKeluarga1sms2

RPPKesehatan1sms2

RPPPermainan1sms2

Silabus1keluarga1sms2

Silabus1Kesehatan1sms2

Silabus1Peristiwa1sms2

SilabusDiriSendiri1sms2

SilabusKebersihan1sms2

Silabuslingkungan1sms2

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kita sebagai orang tua seringkali mengikutkan anak kita berbagai macam

Image

Kita sebagai orang tua seringkali mengikutkan anak kita berbagai macam les tambahan di luar sekolah seperti les matematika, les bahasa inggris, les fisika dan lain-lain. Saya yakin hal ini kita dilakukan untuk mendukung anak agar tidak tertinggal atau menjadi yang unggul di sekolah. Bahkan, terkadang ide awal mengikuti les tersebut tidak datang dari si anak, namun datang dari kita sebagai orang tua. Benar tidak?

Memang, saat ini kita menganggap tidak cukup jika anak kita hanya belajar di sekolah saja, sehingga kita mengikutkan anak kita bermacam-macam les. Kita ingin anak kita pintar berhitung, kita ingin anak kita mahir berbahasa inggris, kita juga ingin anak kita jago fisika dan lain sebagainya. Dengan begitu, anak memiliki kemampuan kognitif yang baik.

Ini tiada lain karena, pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah juga menuntut untuk memaksimalkan kecakapan dan kemampuan kognisi. Dengan pemahaman seperti itu, sebenarnya ada hal lain dari anak yang tak kalah penting yang tanpa kita sadari telah terabaikan. Apa itu? Yaitu memberikan pendidikan karakter pada anak didik. Saya mengatakan hal ini bukan berarti pendidikan kognitif tidak penting, bukan seperti itu!

Image

Maksud saya, pendidikan karakter penting artinya sebagai penyeimbang kecakapan kognitif. Beberapa kenyataan yang sering kita jumpai bersama, seorang pengusaha kaya raya justru tidak dermawan, seorang politikus malah tidak peduli pada tetangganya yang kelaparan, atau seorang guru justru tidak prihatin melihat anak-anak jalanan yang tidak mendapatkan kesempatan belajar di sekolah. Itu adalah bukti tidak adanya keseimbangan antara pendidikan kognitif dan pendidikan karakter.

 

Ada sebuah kata bijak mengatakan, ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh. Sama juga artinya bahwa pendidikan kognitif tanpa pendidikan karakter adalah buta. Hasilnya, karena buta tidak bisa berjalan, berjalan pun dengan asal nabrak. Kalaupun berjalan dengan menggunakan tongkat tetap akan berjalan dengan lambat. Sebaliknya, pengetahuan karakter tanpa pengetahuan kognitif, maka akan lumpuh sehingga mudah disetir, dimanfaatkan dan dikendalikan orang lain. Untuk itu, penting artinya untuk tidak mengabaikan pendidikan karakteranak didik. Lalu apa sih pendidikan karaker itu?

Jadi, Pendidikan karakter adalah pendidikan yang menekankan pada pembentukan nilainilai karakter pada anak didik. Saya mengutip empat ciri dasar pendidikan karakter yang dirumuskan oleh seorang pencetus pendidikan karakter dari Jerman yang bernama FW Foerster. Pertama, pendidikan karakter menekankan setiap tindakan berpedoman terhadapnilai normatif. Anak didik menghormati norma-norma yang ada dan berpedoman pada norma tersebut. Kedua, adanya koherensi atau membangun rasa percaya diri dan keberanian, dengan begitu anak didik akan menjadi pribadi yang teguh pendirian dan tidak mudah terombang-ambing dan tidak takut resiko setiap kali menghadapi situasi baru. Ketiga, adanya otonomi, yaitu anak didik menghayati dan mengamalkan aturan dari luar sampai menjadi nilainilaibagi pribadinya. Dengan begitu, anak didik mampu mengambil keputusan mandiri tanpa dipengaruhi oleh desakan dari pihak luar. Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan adalah daya tahan anak didik dalam mewujudkan apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan marupakan dasar penghormatan atas komitmen yang dipilih.

 

Pendidikan karakter penting bagi pendidikan di Indonesia. Pendidikan karakter akan menjadi basic atau dasar dalampembentukan karakter berkualitas bangsa, yang tidak mengabaikan nilainilai sosial seperti toleransi, kebersamaan, kegotongroyongan, saling membantu dan mengormati dan sebagainya. Pendidikan karakter akan melahirkan pribadi unggul yang tidak hanya memiliki kemampuan kognitif saja namun memiliki karakter yang mampu mewujudkan kesuksesan.

Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis dan kognisinyan (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Dan, kecakapan soft skill ini terbentuk melalui pelaksanaan pendidikan karater pada anak didik.

Berpijak pada empat ciri dasar pendidikan karakter di atas, kita bisa menerapkannya dalam pola pendidikan yang diberikan pada anak didik. Misalanya, memberikan pemahaman sampai mendiskusikan tentang hal yang baik dan buruk, memberikan kesempatan dan peluang untuk mengembangkan dan mengeksplorasi potensi dirinya serta memberikan apresiasi atas potensi yang dimilikinya, menghormati keputusan dan mensupport anak dalam mengambil keputusan terhadap dirinya, menanamkan pada anak didik akan arti keajekan dan bertanggungjawab dan berkomitmen atas pilihannya. Kalau menurut saya, sebenarnya yang terpenting bukan pilihannnya, namun kemampuan memilih kita dan pertanggungjawaban kita terhadap pilihan kita tersebut, yakni dengan cara berkomitmen pada pilihan tersebut.

Pendidikan karakter hendaknya dirumuskan dalam kurikulum, diterapkan metode pendidikan, dan dipraktekkan dalam pembelajaran. Selain itu, di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar juga sebaiknya diterapkan pola pendidikan karakter. Dengan begitu, generasi-generasi Indonesia nan unggul akan dilahirkan dari sistem pendidikan berkarakter. 

Image

jika dilihat dari sistem pendidikan biasa,Jika bicara soal sistem pendidikan, kita akan banyak menemukan retorika dan kontradiksi yang membuat kita akan tertegun menyaksikan kenyataan yang ada di negara kita. Banyak pihak yang menyuarakan idealisme namun terbentur oleh sistem yang entah bagaimana caranya kita bisa mendeskripsikannya.

Btw, ini prolognya kesannya serius banget deh, hihihi. :-P

Baru saja saya melakukan ritual brainstorming berkedok ngemil es krim; seperti yang biasa saya lakukan sejak dua tahun lalu bersama dua orang teman kuliah saya. Mungkin saking lamanya kami tidak bertemu dan saking randomnya, akhirnya kami membahas random topics mulai dari e-ktp, pemilihan presiden, film dan novel sci-fi, lowongan pekerjaan bidang IT, hingga sistem pendidikan di Indonesia.

Awalnya kami membahas mengenai pembagian konsentrasi paket di program studi saya, yang memang dirasa kurang spesifik. Jika dibandingkan dengan sistem penjurusan di luar negeri, spesifikasi keminatan di sekolah-sekolah Indonesia memang cenderung ‘terlambat’ dan terlalu general. Jika di luar negeri pada jenjang high school para siswa sudah dapat menentukan sendiri mata pelajaran yang bisa dipilih sesuai keminatan, di Indonesia siswa menengah kita masih dijejali dengan berbagai mata pelajaran umum yang belum tentu juga sesuai dengan bidang yang akan dituju pada jenjang perguruan tinggi. Pada jenjang sekolah menengah siswa berlomba-lomba untuk bisa masuk jurusan ilmu alam, namun pada akhirnya mereka malah banyak yang banting setir ke jurusan sosial ketika kuliah. Kasihan juga kan siswa jurusan sosial yang kesempatan kuliahnya tergusur akibatinconsistency siswa jurusan ilmu alam yang beralih jurusan?

 

Di negara kita, stereotip masyarakat cenderung menjadikan mindset generasi mudanya untuk belajar agar bisa menjadi pegawai, sehingga jurusan yang diminati adalah jurusan teknik, ekonomi akuntansi, atau kedokteran. Selain jurusan tersebut, dianggap kurang menjual, dan mengakibatkan kurangnya keminatan terhadap bidang-bidang lain. Padahal sebenarnya tidak ada bidang ilmu yang tidak bermanfaat di dunia ini, kan?

Justru negara kita yang konon merupakan negara agraris dan maritim seharusnya bisa dikembangkan melalui sumber daya manusianya yang melimpah. Namun pada kenyataannya, dari tahun ke tahun sumber daya manusia di bidang pertanian dan kelautan semakin lama semakin punah. Sistem pendidikan di Indonesia terlalu mengacu pada dunia industri, sehingga pengetahuan mendasar soal bercocok tanam atau kelautan malah terabaikan. Jika semua generasi muda dididik untuk menjadi pegawai, lalu siapa yang akan mengelola pertanian dan kelautan Indonesia? Akibatnya, banyak sarjana yang berebut lowongan pekerjaan, padahal sumber daya alam Indonesia masih banyak yang belum teroptimalisasi. Seharusnya pendidikan anak dispesifikasikan sejak tingkat menengah untuk dapat mengembangkan potensi alam daerahnya dengan baik. Dengan demikian, Indonesia dapat menjadi makmur akibat optimalisasi sumber daya manusia dan alamnya yang terintegrasi dengan baik.

Cara berpikir anak-anak Indonesia sejak kecil juga sudah dikotak-kotakkan, sehingga mereka menjadi kurang kreatif. Sejak kecil anak-anak Indonesia sudah di-brainwash dengan cara pandang orang dewasa, melalui judgement benar-salah terhadap karya mereka. Tidakkah disadari bahwa hal tersebut merupakan pembunuhan karakter terhadap diri mereka? Sesuatu yang berbeda dari pandangan orang dewasa akan dianggap salah dan bisa jadi malah membuat mental anak tersebut menjadiinferior. Anak-anak akan ragu untuk mengutarakan pendapat dan kreatifitasnya karena takut dinilai salah oleh lingkungannya.

Sistem pendidikan yang ada sudah menjadi kurang relevan jika dibandingkan dengan tuntutan zaman sekarang. Sistem pendidikan dengan standar kelulusan tertentu juga cenderung melahirkan generasi dengan mindset pintar di bidang akademis namun belum tentu mampu bertahan hidup. Anak-anak diberi standar kelulusan tertentu, sehingga mereka harus belajar untuk mengejar target tersebut, namun membuat mereka melupakan soft skills lain yang penting dan bermanfaat untuk mereka dalam kepentingan bertahan hidup. Padahal apa sih tujuan mereka belajar sedemikian giatnya kalau bukan untuk bisa bertahan hidup? Kembali kondisi ini menghasilkan sarjana yang berebut lowongan pekerjaan di dunia industri, padahal masih banyak peluang lain untuk menghasilkan uang jika saja mereka mau berpikir sedikit lebih kreatif.

Kuncinya, sistem pendidikan seharusnya bisa melahirkan generasi yang mau dan mampu berpikir kreatif agar negara kita bisa lebih maju. Dengan adanya generasi yang kreatif, bidang pekerjaan tidak melulu terpusat pada dunia industri dan potensi sumber daya alam serta sumber daya manusia Indonesia dapat teroptimalisasi.

Saya memang tidak punya pengetahuan mumpuni soal bagaimana mengatur sistem pendidikan yang sepatutnya, namun setidaknya sedikit pandangan ini bisa memberikan kontribusi untuk membuka mata kita, terutama pihak yang ingin berkecimpung di dunia pendidikan agar mengubah mindset-nya menjadi lebih kreatif. Negara kita butuh generasi yang kreatif untuk bisa memajukan bangsanya. Negara kita butuh generasi yang kreatif untuk bisa menjawab retorika bangsa yang mengalami defisiensi kebanggaan sebagai warga negara ini.

 

Dalam Millis SMA Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) terungkap bahwa banyak sekolah menghadapi kesulitan dalam menerapkan sistem kredit semester (SKS) sesuai dengan amanat undang-undang sistem pendidikan nasional. Yang menjadi kendala ialah terbatasnya pemahaman tentang penerapan SKS dalam pengelolaan kurikulum di sekolah.

Dasar

Pendidikan nasional bertujuan untuk memanusiakan manusia Indonesia. Dalam mewujudkan tujuan filosofis itu Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (USPN) No.2 tahun 1989 merumuskan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkankan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia, bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya.Sejalan dengan perubahan paradigma penyelenggaraan pendidikan rumusan itu disempurnakan pada USPN No. 20 tahun 2003 yaitu pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak dan peradabanbangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik.

Pada kedua konsep itu terdapat perbedaan mendasar tentang bagaimana pendidikan harus memperlakukan siswa. Pada undang-undang sebelumnya menunjukan konsep penyelenggara pendidikan sebagai pemeran aktif dalam pembinaan siswa, sedangkan USPN No. 20 tahun 2003 menempatkan siswa sebagai subjek yang ditandai dengan rumusanberkembangnya. Konsekuensi dari itu kewajiban sekolah ialah memfasilitasi peserta didik mengembangkan potensi dirinya melalui kegiatan pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangkan fisik serta psikologis peserta didik sebagaimana diamanatkan pada pasal 19 PP 19 tahun 2005. Konsep ini secara singkat menegaskan bahwa tugas sekolah adalah menciptakan kondisi yang mendukung penyelenggaraan pendidikan, bimbingan dan latihan berjalan efektif.

Perbedaan kata mengembangkan dengan berkembangnya secara ideal dapat mengubah watak sistem pelayanan pendidikan yang berbeda jauh. Pergeseran dari pendidikan yang berpusat pada prakarsa pendidik menjadi berpusat pada prakarsa siswa berdampak pada perubahan strategi perencanaan, pelaksanaan, juga pada evaluasinya. Intinya adalah mengembangkan potensi peserta didik.

Potensi peserta didik bergantung pada dua hal utama, yaitu motivasi dan pengetahuan. Pada motivasi Cofer&Apply (1963:7) meliputi dua penting yaitu regulasi dan penentuan arah dari seluruh dorongan yang muncul dalam diri manusia untuk beraktivitas. Menurut Geen R. (1994) sebagaimana terurai dalam Wikipedia meyatakan bahwa motivasi merujuk pada inisiasi, penentu arah, intensitas dan persistensi prilaku manusia. Motivasi meliputi motivasi internal dan eksternal. Jika dorongan itu datang untuk melakukan suatu perbuatan dari dalam dirinya hal itu termasuk dalam motivasi internal, dan jika suatu perbuatan muncul karena dorongan dari luar dirinya, maka hali itu termasuk dalam kategori motivasi eksternal.

Tinggi rendahnya derajat manusia ditentukan oleh ilmunya. Kesempurnaanya ditentukan oleh kemampuan dalam menguasai dan menerapkannya. Pemahamannya ditunjukan kemampuan berpikir yang tercermin dalam berbicara, menulis, tindakan, sikap, dan hasil karya. Mendemonstrasikan kebolehan dalam kegiatan sehari-hari merupakan unjuk kebolehan kontekstual. Kekayaan pengetahuan, pemahaman, keterampilan menjadi pertunjukan yang integratif sebagai potensi diri yang melekat pada penampilan dirinya secara keseluruhan dalam sikap hidupnya. Melekat dalam kemampuannya untuk menentukan mana yang sebaiknya dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan.

Filosofi Belajar Tuntas

Belajar tuntas (Mastery Learning) adalah pendekatan pembelajaran berdasar pandangan filosofis bahwa seluruh peserta didik dapat belajar jika mereka mendapat dukungan kondisi yang tepat. Dalam pelaksanaannya peserta didik memulai belajar dari topik yang sama dan pada waktu yang sama pula. Perlakuan awal belajar terhadap siswa juga sama. Siswa yang tidak dapat menguasai seluruh materi pada topik yang dipelajarinya mendapat pelajaran tambahan sehingga mencapai hasil yang sama dengan kelompoknya. Siswa yang telah tuntas mendapat pengayaan sehingga mereka pun memulai mempelajari topik baru bersama-sama dengan kelompoknya dalam kelas. (http://en.wikipedia. org/wiki/ Mastery_ learning: 2008 )

Konsep dasar yang perlu mendapat perhatian pendidik ialah peta sebaran potensi sebelum siswa mendapat perlakuan belajar. Secara empirik data potensi tersebar normal (John B.Carol, http://www.humboldt.edu/~tha1/ mastery.html:1987. Hal itu mengandung arti bahwa hampir seluruh data berada dalam kurva. Berdasarkan konsep ini maka siswa dikelompokan dalam 3 kelompok yaitu atas, tengah dan bawah. Kelompok atas berarti siswa yang dapat belajar dengan cepat, kelompok tengah siswa rata-rata, dan kelompok bawah adalah siswa yang berkarakter belajar lambat. Seperti dalam distribusi sebaran IQ pengelompokan berdasarkan proporsi antara 26% kelompok atas dan 26% kelompok bawah, dan 68% kelompok tengah pada antara 85 -115. Satu persen dari kelompok atas tergolong siswa yang amat cerdas, dan dua persen dari kelompok bawah siswa yang daya belajarnya sangat lambat (Disso95, http://www.youtube.com)

Menurut hasil penelitian di beberapa negara termasuk Amerika, jika siwa berada pada kondisi yang tepat, mendapat perlakuan belajar yang sesuai dan mendapat waktu yang cukup untuk menyelesaikan tugas belajar, terlihat bahwa 90% siswa dapat mencapai target belajar secara normal (Huitt, W.http://chiron.valdosta.edu/whuitt/col/instruct/mastery.html, 1996). Teori ini menegaskan betapa pentingnya sekolah dikondisikan agar dapat memberi perlakuan belajar dan menyediakan waktu belajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Berdasarkan analisis teori di atas ditegaskan pula bahwa tingkat kebutuhan perlakuan dan waktu belajar sengat bergantung pada potensi siswa sehingga sekolah yang efektif memberi perlakuan belajar tidak sama untuk seluruh siswa karena harus disesuaikan dengan tingkat kebutuhan pelayanan.

Terdapat dua faktor utama yang menentukan kecepatan siswa mencapai ketuntasan belajar, pertama adalah kecerdasannya dan kedua motivasinya. Istilah kecerdasan memayungi gambaran makna yang terkandung dalam pikiran yang berhubungan membentuk berbagai kemampuan, kemampuan berargumentasi, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, mengembangkan ide secara utuh dan menyeluruh, serta kemampuan belajar. Kecerdasan juga meliputi kreativitas, kepribadian, karakter, ilmu pengetahuan atau kebijakan (http://en.wikipedia.org/wiki/Intelligence_(trait). Motivasi itu dapat diumpamakan sebagai mesin penggerak. Kalau pada sepeda motor besarnya motivasi itu bergantung pada besar CC pada mesin. Kembali pada potensi siswa, maka semakin besar motivasi dan semakin tinggi kecerdasannya maka semakin besar kemungkinannya siswa itu masuk dalam kelompok atas.

Secara empirik sebaran kecerdasan siswa dalam kelas berada pada kelompok rata-rata. Hal yang fenomenal dalam proses pembelajaran, pendidik memperlakukan siswa dengan perlakuan rata-rata. Konsekuensi dari penyikapan ini sesungguhnya yang pelayanan yang guru lakukan lebih banyak memenuhi kebutuhan siswa rata-rata pula. Oleh karena itu siswa yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi selalu lebih cepat menguasai pengetahuan maupun dalam memecahkan masalah. Akibatnya, siswa kelompok atas selalu harus menunggu teman sekelompoknya selesai menyelesaikan pelajarannya. Jika tidak memperoleh perlakuan dalam masa menunggu itu siswa pandai selalu mencari kesibukan lain. Ada kalanya mereka menjadi pengganggu temannya sehingga bisa jadi karena itu dicap sebagai siswa nakal. Sebaliknya siswa yang paling bawah akan selalu menghadapi kendala ketertinggalan.

Dengan memperhatikan kondisi ini maka dalam pelayanan pendidikan memerlukan pelayanan standar untuk siswa rata-rata, pelayanan pengayaan untuk siswa kelompok atas dan pelayanan perbaikan untuk siswa kelompok bawah. Atas dasar argumentasi inilah maka sistem kredit semester itu diperlukan sebagai solusi agar kecepatan belajar siswa dapat berkembang menurut potensi dirinya. Dengan pelayanan sistem kredit semester (1) seluruh individu dapat belajar sesuai dengan potensinya (2) seluruh individu belajar dengan caranya masing-masing pada tingkat kecepatan yang berbeda (3) dengan pelayanan belajar yang kondusif maka potensi perbedaan karakter tiap individu akan lebih jelas terlihat (4) bias yang tidak terkoreksi akan lebih mudah dipertanggung-jawabkan pada hampir seluruh bentuk kesulitan belajar. (http://www.perry-lake.k12.oh.us/402_LearnFacil/Index_links/what_is_mastery_learning.htm)

Sistem Kredit Semester dan TQM

Selama ini sekolah menyelenggarakan kurikulum dengan pendekatan sistem paket semester. Pada pendekatan ini siswa diperlakukan secara seragam. Memulai program dan menyelesaikan pelajaran pada waktu yang sama. Siswa yang dapat belajar lebih cepat idealnya mendapat pengayaan belajar, namun tidak membuatnya untuk mempercepat penyelesaian pendidikannya. Siswa yang tidak tuntas mendapat remedial, namun sesudah memenuhi batas ketuntasan mereka kembali bergabung pada kelompoknya.

Model pelayanan itu dipandang tidak efektif karena tidak memberikan pelayan optimal terutama terhadap siswa yang memiliki potensi untuk menyelesaikan pelajarannya dengan cepat. Dalam memenuhi harapan untuk memeberikan pelayanan belajar yang dapat memenuhi kebutuhan setiap individu inilah sistem kredit semester diterapkan. Dengan dasar ini pada hakekatnya sistem kredit semester diterapkan untuk memberikan peluang memfasilitasi peserta didik mengembangkan potensi dirinya melalui kegiatan pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 19 PP 19 tahun 2005.

Penerapan SKS merupakan bagian dari penerapkan model manajemen Total Quality Management (TQM). Secara afilosofis model ini fokus pada pemenuhan kebutuhan dan kepuasan pelanggan. TQM telah diadopsi dari sistem lembaga usaha dalam melakukan perubahan. Dari hasil kolaborasi Universitas Washington dengan sekolah negeri di St.Louis munculah konsepTotal Quality Schools (TQS) yaitu konsep unik tentang strategi meningkatkan efektivitas sekolah (http://www.crossroad.to/Quotes/TQM.html) dengan mendayagunakan TQM sebagai konsep maupun perangkat pembaharuan.Tujuanya adalah meningkatkan mutu pelayanan sekolah melalui kerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan sebagai solusi untuk membantu siswa melalui pengembangan kondisi sekolah sebagai tempat terbaik untuk siswa belajar dan mengembangkan potensinya secara optimal. Sistem kerja sama yang efektif tentu memerlukan perencanaan, pengorganisasian, kendali, pengarah, staf, dan secara keseluruhan membentuk sistem yang visioner.

Beberapa pilar utama dalam pelaksanaan TQS ialah efektifnya kerja sama, semua melayani semua, kepala sekolah, guru, siswa, staf selalu menjaga (1) efisiensi biaya, (2) menerapkan ukuran kualitas produk yang mengacu pada basis kriteria kebutuhan siswa berprestasi (3) menerapkan ukuran dan pembaharuan mutu proses pembelajaran (3) memahami bagaimana pengelolaan input menjadi output dengan selalu berlandaskan kreasi sehingga selalu menghasilkan hasil pekerjaan yang inovatif (4) memahami dengan baikharapan orang tua siswa dan siswa melalui proses kerja sehari-hari.

Untuk mendapatkan mutu output pendidikan terbaik maka sekolah harus membangun kualitas pada tiap pelaksanaan pekerjaan sehari-hari, mendayagunakan guru dan staf sekolah untuk memecahkan tiap masalah dalam peningkatan mutu, melakukan pembaharuan dalam proses pengelolaan (http://www.orgdynamics.com/tqci.html). Sebagai landasan utama dari sistem perubahan ini maka sekolah perlu mengembangkan sumber daya yang lebih cerdas, lebih kompak, dan berkomitmen untuk meningkatkan mutu seluruh tahap pekerjaan secara terencana dan berkelanjutan.

Penerapan SKS

Prinsip dasar penerapan SKS adalah bagaimana sistem pelayanan sekolah dapat memenuhi kebutuhan dan kepuasan siswa dalam mengembangkan potensi dirinya secara optimal. Memberikan pelayanan belajar kepada siswa melalui penciptaan kondisi sekolah yang dapat memenuhi kebutuhan belajar secara individual sehingga tiap individu menampakan potensinya secara optimal.

Dalam pelaksanaannya pelayanan diberikan kepada tiga kelompok siswa yaitu;

  • Pelayanan standar untuk siswa rata-rata.
  • Pelayanan akselerasi kepada siwa kelompok atas.
  • Pelayanan remedial kepada siswa kelompok bawah.

Pelayanan terhadap siswa rata-rata jika melihat jumlah sebaran secara empirik memerlukan bentuk pelayanan terbesar karena sebagian besar siswa mendapat pelayanan dalam kelompok ini. Oleh karena itu pada kelompok ini sesungguhnya tidak diperlukan sarana yang berbeda jauh daripada sistem penyelenggaraan paket semester. Sistem pengelolaan kelas pun tidak mutlak harus menggunakan sistem moving class. Jumlah ruang kelas dan jam belajar pada pelayanan kelompok rata-rata dapat berjalan seperti dalam penyelenggaraan paket semester sebagaimana sekolah telah melaksanakannya pada saat ini.

Pelayanan plus dalam SKS diperlukan untuk memberikan pelayanan akselerasi kepada siswa kelompok atas. Kelompok siswa ini semestinya dalam sistem ini diberi peluang untuk melakukan kotrak kredit yang lebih banyak. Jika siswa dapat menyelesikan pelajaran lebih cepat, maka siswa diberi pelayanan untuk melanjutkan pelajaran lebih cepat sehingga dapat menyelesaikan studinya lebih cepat daripada siswa rata-rata. Dalam melaksankan model pelayanan ini sekolah memerlukan kesiapan pada :

  • Tim pendidik yang melayani program percepatan;
  • Membentuk pembimbing akademik yang akan membantu dan memutuskan siapa-siapa saja yang boleh mengambil kredit pada sejumlah tertentu;
  • Menyediakan kartu kredit untuk dibawa siswa dalam tiap kegiatan tatap muka;
  • Menggantikan sistem rapot ke dalam sistem Kartu Hasil Studi (KHS) yang dapat diisi tiap siswa menyelesaikan kreditnya;
  • Ruangan tempat memberikan pelayanan percepatan kepada siswa;
  • Tambahan waktu ekstra dalam memberikan pelayanan belajar kepada rombongan kelompok atas dan bawah sehingga bentuk penjadwalan belajar berbeda dari pola sistem paket semester.
  • Modul yang dilengkapi dengan materi pelajaran, perangkat latihan kerja siswa, latihan kerja mandiri, perangkat evaluasi ulangan, sampai pada perangkat ulangan umum untuk tiap mata pelajaran;
  • Memberikan peluang belajar kepada siswa yang berakselerasi untuk mengikuti kegiatan tatap muka dengan siswa angkatan di atasnya pada mata pelajaran yang sama (misalnya,siswa dari rombongan belajar kelas 10 bergabung belajar dengan rombongan belajar kelas 11);
  • Memberikan peluang kepada siswa yang telah menyelesaikan seluruh kreditnya untuk mengikuti ujian akhir.

Substansi pelayanan plus itu pada dasarnya untuk siswa yang memiliki kemampuan belajar cepat dengan kepada siswa yang memiliki kemampuan belajar lambat sama saja. Namun jika kondisi sekolah baik sehingga siswa kolompok lambat dapat dibantu secara optimal, maka prioritas pelayanan yang perlu sekolah sediakan adalah pelayanan percepatan belajar pada kelompok atas.

Dengan demikian bagi sekolah yang akan menyelenggarakan SKS terdapat dua alternatif dalam soal pengaturan jadwal dan ruangan. Pertama tidak menambah ruang yang ada, namun menambah waktu belajar yang tadinya pembelajaran hanya dilaksanakan pagi hari harus berubah menjadi sepanjang hari. Kedua, menambah ruangan sesuai dengan kebutuhan pelayanan yang akseleratif sehingga sekolah tetap dapat memberikan pelayanan pagi, namun sekolah memerlukan ruangan yang lebih banyak.Mengenai mobilisasi belajar dengan sistem movingclass, tampaknya akan menjadi sesuatu yang tidak selalu diperlukan, namun kemungkinan hal itu tidak pada sebagian jadwal tidak terhidarkan.

Untuk mempermudah pemahaman tentang sistem penyelengaraan SKS dapat dilihat pada diagram peta pelayanan di bawah ini.

Diagram pelayanan SKS menunjukan bahwa adanya dua kelompok jenis pelayanan. Pelayanan kepada kelompok tengah, program pelayanan siswa kelompok atas dan bawah. Pada pelayanan kelompok tengah pendekatan relatif tidak berbeda banyak dengan sistem pelayanan paket semester, sedangkan pada pelayanan kelompok atas dan bawah lebih fokus pada pelayanan individu. Dalam hal ini peran konsultan akademik sangat penting untuk menentukan banyaknya kredit yang dapat diambil tiap siswa, menilai boleh atau tidaknya siswa mengambil kredit berikutnya dan mengkoordinasikan dengan pengelola administrasi akademik untuk mencatat tiap perkembangan yang dapat siswa capai. Tugas ini menjadi tugas wali kelas sehingga tugas wali kelas dalam pelaksanaan SKS berbeda dengan yang selama ini berjalan.

Dalam pelaksanaan SKS pengukuran bekal ajar siswa, tingkat pencapaian hasil prestasi sebelumnya, besarnya motivasi untuk menyelesaikan beban pelajaran berikutnya menjadi dasar pertimbangan untuk menentapkan jumlah kredit yang akan diambil berikutnya. Beban belajar diperhitungkan dengan menggunakan jumlah jam pelajaran tiap minggu dan tiap semester dengan sistem tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dengan selalu tersedia modul yang dapat siswa gunakan merupakan bagian penting yang perlu sekolah pertimbangkan. Oleh karena itu dari keseluruhan persiapan yang sekolah lakukan sebelum melaksanakan SKS ialah menyiapkan bahan pelajaran untuk siswa sehingga siswa dapat mengembangkan potensi individunya secara optimal.

Untuk pelaksanaan ini sekolah juga perlu menyusun standar prosedur oprasional pelayanan belajar dengan menggunakan SKS. Hal ini penting untuk menjaga proses pelayanan belajar terjaga mutunya. Dalam penerapan sistem ini kerja sama tim guru harus lebih meningkat terutama kerja sama pada kelompok mata pelajaran sejenis untuk mendorong siswa mendapat peluang menyelesaikan studinya lebih cepat dan lebih optimal bagi siswa yang memiliki potensi untuk melakukannya.

Kesimpulan

Sistem SKS merupakan strategi melaksanakan sistem pelayanan belajar yang memberikan peluang dan tantangan kepada siswa untuk mengembangkan potensi individunya secara optimal dan mengembangkan motivasi siswa untuk berprestasi dalam penguasaan dan penerapan ilmu serta menyelesaikan studinya dengan waktu yang lebih cepat.

Sistem SKS pada prinsipnya merupakan sistem pelayanan yang mengutamakan pemenuhan dan pemuasan siswa yang fokus utama pada kebutuhan tiap individu untuk memanfaatkan potensinya dalam mewujudkan prestasi belajar dengan sistem pelayanan yang lebih menyenangkan dan menantang.

Sistem SKS memerlukan dukungan kerja sama yang lebih kuat dalam meningkatkan efektivitas pelayanan. Dalam hal ini sekolah harus fokus pada upaya menjaga dan meningkatkan mutu melalui penerapan model pembaharuan berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya sekolah memerlukan penerapan model menajemen Total Quality Management(TQM).

Model pelayanan siswa dikelompokan menurut sebaran data normal yang menempatkan siswa dalam kelompok atas, tengah dan bawah. Siswa yang memiliki kecepatan belajar tinggi dapat menuntaskan materi lebih cepat dan mendapat peluang untuk melanjutkan belajarnya pada topik berikutnya secara berkelanjutan tanpa harus menunggu teman sekelompok menyelesaikan program belajarnya terlebih dahulu. sekolah memerikan pelayanan pada kelompok tengah dengan program pengayaannya, dan pada kelompok bawah dengan remedialnya. SKS memberikan peluang belajar kepada seluruh siswa. Untuk itu dibutuhkan sarana dan prasaran yang lebih banyak, memerlukan bahan ajar yang lebih lengkap, dan penggunaan waktu yang lebih banyak pula.

Sistem Pendidikan Di Indonesia secara umum 

Image

Pendidikan adalah Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan nasional adalah Pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.

Sistem pendidikan nasional adalah Keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Peserta didik adalah Anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.

Jalur pendidikan adalah Wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.

Jenjang pendidikan adalah Tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan.

Jenis pendidikan adalah Kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan.

Satuan pendidikan adalah Kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.

Pendidikan formal adalah Jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

Pendidikan nonformal adalah Jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.

Pendidikan informal adalah Jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.

Pendidikan anak usia dini adalah Suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Pendidikan jarak jauh adalah Pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi, informasi, dan media lain.

Standar nasional pendidikan adalah Kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Wajib belajar adalah Program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh Warga Negara Indonesia atas tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah.

Warga Negara adalah Warga Negara Indonesia baik yang tinggal di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia maupun di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Masyarakat adalah Kelompok Warga Negara Indonesia nonpemerintah yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan.

Pemerintah adalah Pemerintah Pusat.

Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Propinsi, Pemerintah Kabupaten, atau Pemerintah Kota.

Menteri adalah Menteri yang bertanggung jawab dalam bidang pendidikan nasional.

Sistem pendidikan yang ada di Indonesia sudah di susun sedemikian rupa agar peserta didik yang tidak lain adalah anak bangsa bisa bersaing pada persaingan global yang makin lama makin ketat dalam persaingan terutama di bidang ilmu dan teknologi. Dari situlah system pendidikan di Indonesia perlu mendapatkan perhatian khusus agar bisa bersaing dengan Negara-negara berkembang bahkan denga dengan Negara maju.

Jalur Pendidikan
Jalur pendidikan terdiri atas:
1. pendidikan formal,
2. nonformal, dan
3. informal.

Jalur Pendidikan Formal
Jenjang pendidikan formal terdiri atas:
1. pendidikan dasar,
2. pendidikan menengah,
3. dan pendidikan tinggi.

Jenis pendidikan mencakup:
1. pendidikan umum,
2. kejuruan,
3. akademik,
4. profesi,
5. vokasi,
6. keagamaan, dan
7. khusus.

Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar bagi setiap warga negara yang berusia 6 (enam) tahun pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya.
Pendidikan dasar berbentuk:

  1. Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat;   serta
  2. Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan Menengah
Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar.
Pendidikan menengah terdiri atas:
1. pendidikan menengah umum, dan
2. pendidikan menengah kejuruan.
Pendidikan menengah berbentuk:
1. Sekolah Menengah Atas (SMA),
2. Madrasah Aliyah (MA),
3. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan
4. Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan Tinggi
Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.
Perguruan tinggi dapat berbentuk:
1. akademi,
2. politeknik,
3. sekolah tinggi,
4. institut, atau
5. universitas.

Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik, profesi, dan/atau vokasi.

Pendidikan Nonformal
Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.
Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.
Pendidikan nonformal meliputi:
1. pendidikan kecakapan hidup,
2. pendidikan anak usia dini,
3. pendidikan kepemudaan,
4. pendidikan pemberdayaan perempuan,
5. pendidikan keaksaraan,
6. pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja,
7. pendidikan kesetaraan, serta
8. pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.
Satuan pendidikan nonformal terdiri atas:
1. lembaga kursus,
2. lembaga pelatihan,
3. kelompok belajar,
4. pusat kegiatan belajar masyarakat, dan
5. majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.
Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.

Pendidikan Informal
Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.
Hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.

.: Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.
Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal.

Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk:
1. Taman Kanak-kanak (TK),
2. Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk:
1. Kelompok Bermain (KB),
2. Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

.: Pendidikan Kedinasan
Pendidikan kedinasan merupakan pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen.
Pendidikan kedinasan berfungsi meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam pelaksanaan tugas kedinasan bagi pegawai dan calon pegawai negeri suatu departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen.
Pendidikan kedinasan diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal dan nonformal.

.: Pendidikan Keagamaan
Pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau kelompok masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal.
Pendidikan keagamaan berbentuk:
1. pendidikan diniyah,
2. pesantren,
3. pasraman,
4. pabhaja samanera, dan bentuk lain yang sejenis.

.: Pendidikan Jarak Jauh
Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.
Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler.
Pendidikan jarak jauh diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus, dan cakupan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta sistem penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar nasional pendidikan.

.: Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus 
Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.
Pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi.
**Warga negara asing dapat menjadi peserta didik pada satuan pendidikan yang diselenggarakan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

Aside | Posted on by | Leave a comment

MATEMATIKA ITU MENYENANGKAN

MATEMATIKA ITU MENYENANGKAN

MARI BELAJAR MATEMATIKA YANG MENYENANGKAN DAN MANDIRI.

Image | Posted on by | Tagged , , | Leave a comment

NEW LIFE TEACHING WILL CHANGE OUR STUDENTS WELL BEING

Image

 

Hi, Adik-adik  yang baik, Bagaimana pelajaran matematikanya? apakah susah untuk dimengerti? nah, sebelum kita cari solusinya, bolehkah Kakak tanya, model pembelajaran yang bagaimana yang adik-adik suka? apakah belajarnya dibantu oleh guru setiap hari(dependent student) atau guru hanya sebagai orang yang memonitor adik-adik belajar( Self Learnign). sekarang konsep pembelajaran yang dimiliki oleh adik-adik bagaimana? kakak mau tahu? karena jika Kakak tahu model pembelajaran yang kamu suka. maka kakak akan memberika solusinya. 

Image

 

Menurut Nana Sujana faktor yang dapat mendukung prestasi belajar siswa adalah hasil belajar yang dicapai siswa yang dipengaruhi oleh dua factor utama yaitu yang pertama; factor dari dalam diri siswa itu sendiri dan yang kedua; factor yang datang dari luar diri siswa itu sendiri atau factor lingkungan.

Menurut Slameto bahwasannya faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar adalah sebagai berikut:
a. Faktor Intern, meliputi:
1) Faktor Biologis ( yang bersifat jasmani)
a) faktor Kesehatan
Sehat berarti dalam keadaan baik, yaitu baik segenap badan beserta bagian-bagian yang lain atau bebas dari penyakit. Kesehatan adalah keadaan atau hal sehat. Kesehatan seseorang berpengaruh terhadap belajarnya.
Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu juga ia akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk jika badannya lelah, kurang darah ataupun ada gangguan-gangguan atau kelainan-kelainan fungsi alat indranya serta tubuhnya.
Agar seseorang dapat belajar dengan baik haruslah mengusahakan kesehatan badannya tetap terjamin dengan cara selalu mengindahkan ketentuan-ketentuan tentang bekarja, tidur, makan, olah raga dan rekreasi. 
2) Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabakan kurang baik dan kurang sempurnanya anggota tubuh atau badan. Seperti: buta, tuli, patah kaki, patah tangan, lumpuh dan lain-lain.
Keadaan cacat tubuh juga mempengaruhi belajar. Siswa yang cacat belajarnya akan tergaggu, misalnya siswa tersebut menjadi minder, kurang percaya diri dll. Jika hal ini terjadi, hendaknya ia belajar pada lembaga pendidikan khusus atau diusahakan alat batu agar dapat menghindar atau mengurangi kecacatannya itu.
3) Faktor Psikologis (yang bersifat rohani)
Sekurang-kurangnya ada tujuh factor psikologis yang mempengaruhi belajar siswa. Faktor-faktor itu adalah: intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kelelahan. Uraian berikut ini akan membahas factor-faktor tersebut.
4) Inteligensi
Intelegensi menurut Ngalim Purwanto adalah factor total, berbagai macam daya jiwa erat bersangkutan didalam (ingatan , fantasi, perasaan, perhatian, minat dan sebagainya turut mempengaruhi seseorang).
Intelegensi merupakan salah satu aspek yang penting dan sangat menentukan berhasil tidaknya seoarng siswa dalam belajar, manakala siswa memiliki intelegensi normal tetapi prestasi belajarnya sangat rendah sekali, hal ini bisa disebabkan oleh hal-hal lain, seperti sering sakit, tidak belajar dirumah, dan sebagainya. Kalau seorang siswa memiliki tingkat intelegensi dibawah normal, maka sulilt baginya untuk bersaing didalam pencapaian prestasi tinggi dengan siswa yang mempunyai intelegensi normal atau diatas normal. Siswa yang demikian keadaannya hendaknya diberi pertolongan khusus serta pendidikan khusus, seperti kursus dan lain sebagainya.
Intelegensi seorang siswa dapat diketahui dari tingkah laku atau pebuatannya yang tampak. Bagi suatu perbuatan intelegensi bukan hanya kemampuan yang dibawa sejak lahir saja yang penting, faktor-faktor lingkungan dan pendidikan pun memegang peranan penting. 

Image
a. Perhatian
Perhatian adalah pemusatan energi psikis yang tertuju kepada suatu pelajaran. Untuk mendapatkan hasil belajar yang baik, siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, jika pelajaran tidak menjadi perhatian siswa, maka timbullah kebosanan, sehingga ia tidak lagi suka belajar. Agar siswa dapat belajar dengan baik, usahakanlah bahan pelajaran selalu menarik perhatian dengan cara mengusahakan pelajaran itu sesuai dengan hobi atau bakatnya.
b. Ingatan
Secara teoritis ingatan akan berfungsi: (1) Menerima Kesan-kesan dari luar, (2) menyimpan kesan, (3) memproduksi kesan. Oleh karena itu, ingatan merupakan kecakapan untuk menerima, menyimpan dan memproduksi kesan-kesan di dalam belajar. Hal ini sekaligus untuk menghindari kelupaan karena lupa merupakan gejala psikologis yang selalu ada.
c. Bakat
Bakat adalah Salah satu kemampuan manusia untuk melakukan suatu kegiatan dan sudah ada sejak manusia itu ada. Hal ini dekat dengan persoalan inteligensia yang merupakn struktur mental yang melahirkan “ kemampuan” untuk memahami sesuatu. Dengan uraian diatas jelaslah bahwa bakat itu mempengaruhi belajar. Jika bahan pelajaran yang dipelajari siswa sesuai dengan bakatnya, maka hasil pelajarannya lebih baik karena ia senang belajar dan pastilah selanjutnya ia akan lebih giat lagi dalam belajar .

Image
d. Motif
Kata motif diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan didalam subyek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Jadi motif erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai. Di dalam menentukan tujuan itu dapat disadari atau tidak, bahwa untuk mencapai tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang berbuat adalah motif itu sendiri sebagai daya penggerak atau pendorongnya.
e. Kematangan
Kematangan adalah suatu tingkat dalam pertumbuhan seseorang, dimana organ tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Oleh karena itu seorang guru harus mengetahui tingkat kematangan anak agar dapat menyesuaikan diri dengan persiapan anak didiknya. Dengan kata lain dalam proses belajar mengajar materi yang di sampaikan harus di sesuaikan dengan tingkat pertumbuhan dan cara berpikir siswa.
f. Kesiapan atau readiness
Menurut James Drever adalah preparedness to respond or react, yaitu kesiapan untuk memberi respon atau bereaksi. Kesediaan itu timbul dari diri seseorang dan juga berhubungan juga dengan kematangan, karena kematangan berarti kesiapan untuk melaksanakan kecakapan. Kesiapan ini perlu diperhatikan dalam proses belajar, karena jika siswa tersebut sudah ada kesiapan untuk belajar, maka hasil belajarnya akan lebih baik.
g. Kelelahan
Kelelahan pada seseorang walaupun sulit untuk dipisahkan tetapi dapat dibedahkan menjadi dua macam: yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani (bersifat psikis). Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh, dan nanti akan timbul kecendrungan untuk membaringkan tubuh. Kelemahan jasmani terjadi karena terjadi kekacauan sisa pembakaran di dalam tubuh sehingga darah kurang atau tidak lancar pada bagian-bagian tertentu. Sedangkan kelelahan rohani dapat di lihat dengan adanya kelesuhan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang. Kehilangan ini sangat terasa pada kepala pusing sehingga sulit untuk berkonsentrasi.
Dari uraian diatas dapatlah di mengerti bahwa kelelahan itu dapat mempengaruhi belajar. Agar siswa dapat belajar dengan baik harus menghindari jangan sampai terjadi kelelahan dalam belajarnya.

b. Faktor Eksetrn
Selain faktor internal yang diakibatkan dari dalam diri siswa, ada pula faktor eksternal atau faktor yang diakibatkan dari luar diri siswa, yang dapat mempengaruhi prastasi belajar siswa antara lain:
1. Faktor lingkungan keluarga.
Keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama bagi siswa. Keluarga adalah termasuk di dalam salah satu faktor yang mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan siswa. Dari lingkungan keluarga inilah yang pertama kali anak dikenalkan dan menerima pendidikan dan pengajaran terutama dari ayah dan ibunya. Pengaruh keluarga bagi siswa adalah berupa: cara orang tua mendidik anak, hubungan antara keluarga, pengertian orang tua, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga dan latar belakang kebudayaan.
Hal-hal lain yang dapat mempengaruhi prestai belajar siswa dari dalam keluarga ini adalah suasana keluarga. Suasana keluarga yang ramai, gaduh atau tegang karena orang tua sering berselisih pendapat dapat mengganggu konsentrasi belajar siswa. Demikian pula keadaan ekonomi keluarga, dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, misalnya ekonomi keluarga yang kurang maka fasilitas belajar anak bisa kurang terpenuhi, bahkan tempat belajar anak kurang memadai atau tidak ada, akibatnya siswa tidak dapat belajar dengan baik sehingga menjadi penghambat prestasi belajarnya.
2. Faktor lingkungan sekolah
Faktor lingkungan sekolah mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam belajar karena hampir sepertiga dari kehidupan siswa sehari-hari berada disekolah. Faktor lingkungan sekolah yang dapat menunjang keberhasilan siswa, antara lain; cara penyampaian pelajaran, faktor antara guru dengan siswa, faktor asal sekolah, faktor kondisi gedung, kelas harus memenuhi syarat belajar, dan kedisiplinan yang diterapkan oleh sekolah yang bersangkutan. 
3. Faktor lingkungan masyarakat
Faktor lingkungan masyarakat disebut juga sebagai faktor lingkungan sekitar siswa dimana ia tinggal, Faktor lingkungan masyarakat ini juga memberikan pengaruh terhadap keberhasilan siswa. Faktor ini dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
a) Faktor media massa; termasuk semua alat-alat media massa seperti; buku, koran, TV, video casette, internet dan sebagainya, yang dapat dimanfaatkan secara positif sebagai penunjang belajar siswa. Namun juga bisa berdampak negatif, bila salah digunakan. Karena itu perhatian, pembimbingan dan kebijaksanaan orang tua dan guru diperlukan untuk mengendalikan mereka.
b) Faktor pergaulan; teman bergaul dan aktivitas dalam masyarakat yang dapat membentuk keberhasilan dalam belajar siswa, bila dapat membagi waktu belajar dengan baik. Bila tidak dapat membagi waktu dengan baik maka aktivitas siswa tersebut akan berantakan dan itu akan berpengaruh pada prestasi belajarnya. Sehingga perhatian dan pengawasan orang tua sangat diperlukan.
Tipe keluarga, seperti pendidikan, jabatan, orang tua siswa, semua itu akan memberikan pengaruh dalam perkembangan siswa.

Posted in Uncategorized | Leave a comment